JAKARTA, Sumutpost.id – Video kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) asal Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bernyanyi di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, viral di media sosial. Aksi tersebut dilakukan setelah rombongan gagal berangkat ke Manokwari, Papua Barat, untuk mengikuti ajang Pesparawi tingkat nasional.
Ketua LPPD Kota Tanjungpinang, Ria Ukur Rindu Tondang, yang turut dalam rombongan, mengungkapkan kegagalan keberangkatan itu bermula dari persoalan tiket pesawat yang disebut tidak valid. Menurutnya, seluruh persiapan telah dilakukan jauh sebelum keberangkatan.
Ria menyebutkan Pada 24 Mei 2026, tim Paduan Suara Wanita (PSW) Kota Tanjungpinang telah mengikuti penampilan uji coba di Gedung Aisyah, Tanjungpinang. Dalam kesempatan itu, panitia juga menyerahkan tiket penerbangan secara langsung kepada kontingen.
“Sebagai Ketua LPPD Kota Tanjungpinang, saya bangga karena untuk pertama kalinya ada kontingen dari Kota Tanjungpinang yang mewakili Provinsi Kepri di tingkat nasional,” kata Ria saat dihubungi, Senin (29/6/2026).
Selanjutnya, pada 16 Juni 2026, kontingen mengikuti acara pelepasan resmi di Batam yang dihadiri Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama, serta jajaran terkait.
Menurut Ria, pada 20 Juni, muncul informasi bahwa tiket yang diterima kontingen diduga bermasalah sehingga dikhawatirkan keberangkatan akan batal. Meski demikian, hingga 24 Juni tidak ada pemberitahuan resmi agar rombongan menghentikan perjalanan.
Rombongan kemudian berangkat ke Bandara Hang Nadim Batam untuk memastikan status tiket. Setibanya di bandara, mereka mendapati tiket tersebut memang tidak dapat digunakan.
“Di bandara kami bertemu beberapa pengurus LPPD Provinsi dan kontingen lain yang sudah memperoleh tiket pengganti dan berangkat lebih dahulu. Sementara kami justru tertinggal,” jelasnya.
Ria mengaku sempat meminta penjelasan tertulis dari pengurus LPPD Provinsi. Saat itu, Sekretaris Umum LPPD Provinsi memberikan surat yang menyatakan keberangkatan kontingen diundur menjadi 25 Juni 2026.
“Berbekal surat tersebut, rombongan kami tetap bertahan menunggu keberangkatan,” ujarnya.
Lanjut Ria, Pada 25 Juni, rombongan kembali datang ke bandara mengenakan seragam resmi. Awalnya mereka diinformasikan kemungkinan tidak ada tiket dan diminta bersiap kembali ke daerah.
“Namun sekitar 15 menit kemudian, kami menerima tiket penerbangan Batam-Jakarta dan diberitahu bahwa tiket lanjutan menuju Manokwari akan dikirim kemudian,” ujarnya.
Dengan penuh harapan, rombongan pun berangkat ke Jakarta. Bahkan, Ria mengaku telah berkoordinasi dengan sejumlah pihak di Manokwari agar jadwal penampilan tim dapat diundur apabila mereka tiba terlambat.
Namun, harapan tersebut pupus setelah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Rombongan mengaku beberapa kali dipindahkan dari Terminal 1C ke Terminal 1B, kemudian ke Terminal 2, hingga akhirnya ke Terminal 3 untuk mengurus keberangkatan.
“Peserta kami banyak yang sudah berumur. Mereka harus berpindah-pindah terminal sambil membawa koper tanpa didampingi official,” ujarnya.
Sesampainya di Terminal 3, mereka kembali menerima kabar mengecewakan. Tiket lanjutan menuju Manokwari ternyata masih berstatus booking dan belum diterbitkan (issued), sehingga rombongan tidak dapat melanjutkan perjalanan.
“Kondisi itu membuat seluruh peserta menangis, kecewa, bahkan emosional. Saya sebagai ketua tidak mampu lagi menenangkan semuanya,” kata Ria.
Di tengah kekecewaan, para peserta kemudian mengunggah kondisi yang mereka alami ke media sosial. Video mereka bernyanyi lagu rohani di Bandara Soekarno-Hatta pun viral dan mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Ria mengatakan aksi tersebut bukan bentuk protes semata, melainkan ungkapan keteguhan hati meski gagal tampil di panggung nasional.
“Kami hanya ingin bernyanyi memuji Tuhan. Kami akan tetap berjuang. Ini baru langkah awal kami. Kami percaya Tuhan akan membuka jalan yang lebih besar ke depannya,” tuturnya.
Ia berharap peristiwa yang dialami kontingen PSW Kota Tanjungpinang menjadi perhatian seluruh pihak agar penyelenggaraan kegiatan serupa di masa mendatang berjalan lebih baik dan tidak menimbulkan ketidakadilan bagi peserta.
“Tuhan pasti akan menguatkan kami. Tuhan pakai PSW Tanjungpinang untuk membuka mata setiap pemimpin agar jangan sesekali melakukan ketidakadilan. Agar amanah dalam melaksanakan tugas nya. Jika besok dan lusa kami menerima tekanan baru lagi. Kami akan menghadapinya. Karena kami akan tetap bersuara demi kebaikan,” ujarnya. (msp)







