MEDAN, Sumutpost.id – Ryanvaldo Josua Tambunan dianiaya ayah pacarnya di Kota Kabanjahe. Pemukulan sadis itu dilakukan secara beramai-ramai. Bahkan, walau korban sudah minta ampun, para pelaku tanpa belas-kasihan terus menghajar korban.
Kasus pengeroyokan ini sudah dilaporkan ke Polres Tanah Karo dengan nomor STTPL/B/444/X/2025/SPKT/Polres Tanah Karo/Polda Sumut yang ditandatangani Venetra Sanwelpry Tarigan. Keluarga juga sudah mengadukan dan mencari bantuan hukum kepada Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Wilayah Sumatera Utara (Sumut), Ganda Maruhum Napitupulu, SH, MH, Kamis (02/10/2025) lalu di Medan.
Ibu korban, Tiur Marisi boru Simaremare (51), kepada PBHI Sumut menuturkan kronologi penghakiman tanpa ampun yang dialami anaknya.
Disebutkan, korban berusia 26 tahun itu seperti biasa menjalankan profesinya sebagai supir bus Almasar. Saat tiba di terminal bus Almasar Kota Kabanjahe, sekitar pukul 09.00 WIB, saat akan melapor ke loket, korban dipepet seseorang yang diduga bernama Robi Sitepu. Korban langsung dipaksa untuk masuk ke dalam mobil mini busĀ Toyota Avanza.
Saat korban dipaksa masuk ke dalam mobil tersebut, korban melihat di dalam sudah ada seorang lelaki yang disebut ayah Rahel (ayah pacar korban).
Ditengah ceritanya, Tiur Marisi boru Simaremare menjelaskan, bahwa anaknya dan Rahel Sitepu sedang ribut. Katanya, Ryanvalda sebelumnya mengirim pesan whatsApp kepada pacarnya (Rahel) yang merupakan mahasiswi Poltekis Medan. Isi pesan itu berupa makian serta ancaman.
Kembali ke kronologis kejadian. Selanjutnya, selepas dari terminal bus Almasar, mobil yang digunakan untuk menculik korban dikemudikan oleh ayah Rahel. Di dalam mobil, korban ditanyai sambil dipukuli oleh Robi Sitepu dan dibawa ke kolam pancing Tasima, Kabanjahe.
“Sesampainya di kolam pancing, korban langsung dicekik dan hempaskan ke tanah oleh Robi Sitepu. Kemudian ayah Rahel dan Robi Sitepu mengambil bambu dan selang dari dalam mobil yang digunakan untuk menyiksa korban. Selanjutnya datang seorang yang dikenal bulang Rahel turut juga memukuli korban,” beber Tiur.
Selain dipukuli, barang milik korban juga dirampas seperti handphone, KTP, dan SIM. Ayah Rahel meminta pasword kepada korban dan membaca isi chat WA kepada Rahel. Usai membaca isi WA, ayah pacarnya kembali memukuli korban.
“Meski korban telah meminta ampun kepada para pelaku, namun korban tetap dipukuli,” beber Tiur lagi.
Selanjutnya korban dibawa kembali ke loket Almasar. Disana, mandor Almasar bernama Andri Ginting, malah ikut memukul sambil merampas uang setoran sebesar 200 ribu dari kantong celana korban.
“Anak saya kembali dibawa menggunakan mobil Avanza itu melewati kolam Tasima. Sepanjang perjalanan korban masih dipukuli. Dan di dalam mobil ayah Rahel mengatakan kepada korban, kau kalau nggak mati, maka akan kubuang ke jurang,” ungkap Tiur menirukan ucapan Andri Ginting.
2 Oknum Polisi Datang
Selanjutnya, mobil masuk ke loket bus Sutra di Kabanjahe. Korban dibawa ke belakang loket dan tetap mendapatkan pemukulan. Ayah Rahel mengambil balok dan memukul kepala korban serta tangan yang mengakibatkan tangan korban patah tulang.
“Setelah anak saya tergeletak tak berdaya, datanglah tiga orang dimana dua orang berpakaian polisi dan satu orang pakaian sipil. Seorang polisi yang diduga bernama Aipda Tarigan mengangkat korban ke dalam mobil polisi dan membawa ke rumah sakit. Saat dibopong, anak saya melihat polisi ada berkomunikasi dengan para pelaku. Di dalam mobil, anak saya mendengar Aipda Tarigan berbicara dengan komandannya melalui HP menanyakan apakah mau dibawa ke Polres atau ke rumahsakit. Lalu korban dibawa ke rumah sakit,” ungkap ibu korban, Tiur Simaremare.
Dijelaskan Tiur kalau saat ini anaknya sedang dirawat di RS Kabanjahe dengan kondisi luka serius. Dan tindak penganiayaan ini sudah dilaporkan ke Mapolres Tanah Karo dengan STTPL/B/444/X/2025/SPKT/Polres Tanah Karo/Polda Sumut yang ditandatangani Venetra Sanwelpry Tarigan. (msp)








