ACEH TENGGARA, Sumutpost.id – Polemik mengenai proyek pembangunan bronjong di Desa Ketambe, Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, mulai menemukan titik terang. Setelah sebelumnya beredar berbagai kabar miring terkait kualitas material yang digunakan, kini terungkap bahwa batu untuk proyek tersebut memang didatangkan dari luar daerah, namun dinilai tetap memenuhi spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
Pernyataan itu disampaikan Ketua LSM Kaliber, ZK Agara, menyusul ramainya perbincangan publik mengenai proyek penahan abrasi sungai tersebut. Menurutnya, informasi yang berkembang di tengah masyarakat perlu diluruskan agar tidak menimbulkan persepsi keliru.
“Memang benar batu proyek bronjong ini didatangkan dari luar. Namun setelah kami amati, spesifikasinya sesuai. Selama ini terlalu banyak berita miring yang beredar, sehingga perlu disampaikan fakta yang sebenarnya,” ujar ZK Agara, Selasa 28 April 2026.
Ia menilai, perdebatan mengenai asal material seharusnya tidak mengaburkan substansi utama, yakni mutu pekerjaan dan ketepatan pelaksanaan proyek. Dalam dunia konstruksi, penggunaan material dari luar wilayah bukan hal yang baru, selama tetap memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan.
Selain itu, ZK Agara juga menyampaikan apresiasi kepada PT Hutama Karya (Persero) atas keseriusannya dalam mengawal jalannya proyek bronjong tersebut. Menurutnya, pihak perusahaan rutin melakukan pengawasan setiap hari demi memastikan kualitas pekerjaan berjalan sesuai target dan standar teknis.
“Kami mengapresiasi PT Hutama Karya (Persero) yang setiap hari melakukan pengawasan dengan baik dan sejuk di lapangan, demi tercapainya bobot pekerjaan yang maksimal,” katanya.
ZK Agara juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat berbincang dengan Datuk Raja Mat Dewa terkait progres pekerjaan bronjong di Desa Ketambe. Dalam perbincangan itu, ia menegaskan bahwa mutu pekerjaan terus dijaga, termasuk pemilihan material batu yang harus sesuai spesifikasi.
“Dalam pekerjaan bronjong di Desa Ketambe ini, kita selalu menjaga mutu pekerjaan dengan baik, termasuk batu yang digunakan harus sesuai spesifikasi,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga mengajak seluruh pihak, baik insan pers maupun rekan-rekan LSM, agar mengedepankan komunikasi yang baik apabila menemukan kekurangan di lapangan.
“Dengan rendah hati kami meminta kepada teman-teman insan pers dan rekan-rekan LSM, apabila ada kesalahan dalam pekerjaan tersebut, mari kita duduk bersama sambil berdiskusi mencari solusi terbaik,” tambahnya.

Menurutnya, masyarakat tentu memiliki hak untuk melakukan pengawasan. Namun kritik yang disampaikan seharusnya berlandaskan data, hasil pengamatan lapangan, dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.
“Jangan sampai ruang publik dipenuhi asumsi yang justru mengaburkan tujuan pembangunan. Jika ada kekurangan, sampaikan berdasarkan fakta. Jika sudah sesuai, maka itu juga harus diakui,” tegasnya.
Sementara itu, masyarakat Ketambe juga meminta kepada pihak PT Hutama Karya (Persero) agar pekerjaan proyek bronjong dapat segera dilanjutkan ke arah hulu sungai, sekitar lebih kurang satu kilometer ke atas. Permintaan tersebut disampaikan mengingat kondisi cuaca hujan ekstrem yang dikhawatirkan dapat memperparah abrasi dan ancaman terhadap permukiman warga.
“Kami berharap proyek bronjong ini secepatnya dilanjutkan ke atas sekitar satu kilometer lagi, mengingat cuaca hujan ekstrem. Harapan masyarakat agar pekerjaan ini segera dilaksanakan,” ujar salah seorang warga dengan tegas.
Proyek bronjong di Ketambe sendiri merupakan salah satu langkah strategis untuk mengamankan kawasan bantaran sungai yang selama ini rawan erosi, terutama saat debit air meningkat pada musim hujan. Kehadiran proyek tersebut diharapkan mampu melindungi infrastruktur, lahan masyarakat, serta permukiman warga sekitar.
LSM Kaliber, lanjut ZK Agara, akan tetap menjalankan fungsi kontrol sosial secara konstruktif, sekaligus mendorong semua pihak agar menilai pekerjaan secara objektif dan proporsional.
Masyarakat Ketambe pun berharap proyek ini dapat berjalan lancar, tepat mutu, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi daerah mereka. (msp)








