IKLAN
DAERAH  

Kisah Penolakan Pasien Oleh Pihak RS Kumpulan Pane Berujung Duka, Nek Suliyem Meninggal Dunia

Jenazah Nek Suliyem yang sempat ditolak berobat di RSUD dr. Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi saat berada di rumah duka. (AM Sitorus/Sumutpost.id)

TEBINGTINGGI, Sumutpost.id – Kisah Nek Suliyem (67), warga Lingkungan I, Kelurahan Brohol, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi berakhir duka. Pasien lansia yang sebelumnya sempat diberitakan ditolak berobat di RSUD dr. H. Kumpulan Pane beberapa pekan lalu, akhirnya meninggal dunia di rumah, Senin pagi (2/2/2026) sekira pukul 09.00 wib.

Keterangan tersebut disampaikan Anggi, menantu Acai Sembada, yang selama ini mendampingi dan mengurus kebutuhan medis almarhumah.

Menurut Anggi, sebelum meninggal dunia, keluarga masih merencanakan agar Nek Suliyem menjalani cuci darah lanjutan di RS Chevani, Kota Tebingtinggi. Namun, rencana itu tidak sempat terlaksana karena kondisi pasien memburuk dan wafat lebih dahulu.

BACA JUGA..  Pembangunan Ruang Poli Rawat Jalan RSU Kabanjahe Dikerjakan CV Citra Perdana Nusantara

“Pasca kejadian penolakan itu, Nek Suliyem sudah sempat menjalani tiga kali cuci darah di RS Chevani.. Rencananya mau lanjut cuci darah lagi ke RS Chevani, tapi keburu meninggal,” ujar Anggi.

Peristiwa wafatnya Nek Suliyem menambah daftar pertanyaan publik atas akses layanan kesehatan bagi warga, terutama bagi pasien dengan kondisi kronis yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.

BACA JUGA..  Update OTT Pejabat Diskominfo Tebingtinggi: Keponakan Wali Kota Dan Pihak Swasta Tersangka

Kasus ini sebelumnya sempat menyita perhatian khayalak ramai setelah beredar informasi penolakan pelayanan di RSUD dr. H. Kumpulan Pane, yang kemudian memicu polemik di ruang publik.

Di tengah duka keluarga, perhatian publik juga tertuju pada respons pemerintah daerah.

Jenazah Nek Suliyem yang sempat ditolak berobat di RSUD dr. Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi saat berada di rumah duka. (AM Sitorus/Sumutpost.id)

Sebelumnya, dalam sebuah apel resmi di lingkungan RSUD, Wali Kota Tebingtinggi Iman Irdian Saragih sempat menyinggung adanya dugaan “drama-drama politik” terkait kasus pasien tertolak tersebut. Pernyataan itu menuai kritik karena dinilai tidak pantas dan berpotensi mengaburkan persoalan utama yaitu keselamatan dan hak pasien.

BACA JUGA..  Diskusi Panel CNBC Indonesia, Bupati Asri Ludin Tambunan: Deliserdang Libatkan Anak Muda Jalankan Program Presiden

Hingga berita ini dikirim, belum ada penjelasan resmi dari pihak manajemen RSUD dr. H. Kumpulan Pane maupun Pemerintah Kota Tebingtinggi terkait rangkaian pelayanan yang diterima almarhumah sebelum wafat. Dan kematian Nek Suliyem menutup satu kisah, namun membuka pertanyaan yang lebih besar, sejauh mana negara hadir saat warganya paling membutuhkan layanan kesehatan. (msp)