IKLAN IKLAN

Kekerasan Massa: Sikap dan Tindakan Yang Perlu Dikritisi

Ratusan orang menggeruduk rumah anggota Komisi III DPR RI dan politikus Partai NasDem Ahmad Sahroni di Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (30/8/2025) pukul 15.00 WIB. Dalam tayangan InewsTV, sejumlah orang berhasil masuk ke dalam rumah Ahmad Sahroni dan manjarah barang-barang di dalamnya. (Ist/Sumutpost.id)

DELISERDANG, Sumutpost.id – Setelah rumah Sahroni habis dijarah dan dibakar massa, kini giliran rumah Eko Patrio dan Uya Kuya dan terbaru rumah Ketua DPR Puan Maharani, yang menjadi sasaran amukan massa. Yang mana sebelumnya gegara seorang anggota DPR menyebut manusia tolol menimbulkan kemarahan besar masyarakat luas di seantero negeri.

Diketahui, vidio penjarahan dan pembakaran rumah Sahroni, Eko Patrio dan Uya Kuya beredar luas di media sosial.

Sulit memang bisa mengendalikan massa yang sudah tersinggung dampak ucapan Sahroni yang menyakiti hati orang banyak.

BACA JUGA..  Polres Belawan dan Brimob Polda Sumut Tangkap 5 Pelaku Tawuran Maut

Ia ( Sahroni) tak memikirkan kalimat tolol itu bisa merusak segalanya. Sebelumnya Sahroni mengatakan, yang membubarkan DPR itu manusia tolol sedunia, katanya.

“Diakui menyikapi perbedaan pendapat terkait kekerasan massa seperti yang terjadi pada rumah Sahroni, Eko Patrio dan Uya Kuya, tidak dapat dibenarkan dalam demokrasi,” jelas Hasan Basri Siregar Ketua JWI Deliserdang, Minggu 31 Agustus 2025.

BACA JUGA..  Panik Jagoannya Kalah, ARM dan Pujakesuma Demo Kantor KPU dan Bawaslu Deliserdang

Pernyataan anggota DPR yang menyebut manusia tolol memang dapat memicu kemarahan, tetapi tindakan kekerasan massa bukanlah solusi yang tepat, tambahnya.

Menurut Haris panggilan akrabnya, dalam masyarakat yang demokratis, perbedaan pendapat seharusnya disikapi dengan dialog dan diskusi yang konstruktif, bukan dengan tindakan kekerasan yang dapat merusak properti dan mengancam keselamatan orang lain.

“Penting bagi semua pihak untuk memahami bahwa kebebasan berpendapat harus diimbangi dengan tanggung jawab untuk tidak memprovokasi atau menghasut kekerasan. Masyarakat perlu diajak untuk berpikir kritis dan tidak mudah terprovokasi dari informasi yang beredar begitu cepat,” paparnya.

BACA JUGA..  Ponpes Darussalam di Aceh Tenggara Terbakar

Pemerintah harus cepat tanggap melihat demo yang begitu besar, menjaga keseimbangan ketertiban harus di utamakan. Kekayaan alamnya yang begitu besar harus pula bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia, sehingga membangun masyarakat yang lebih harmonis dan hidup layak dirasakan semua pihak, dan tentu, ketenangan sama didapatkan, tutupnya. (msp)