MEDAN, Sumutpost.id – Ajang Grand Final Festival Perkolong-kolong – FORSASE Mencari Bakat yang dihelat di Balai Zeqita Lau Cih, Medan, pada Jumat, 24 Juli 2026, resmi sukses melahirkan talenta-talenta muda berbakat di bidang seni tradisi Karo. Puncak kompetisi ini menobatkan pasangan David Tarigan dan Jedida beru Sinukaban sebagai Juara 1.
Kesuksesan penyelenggaraan festival ini sendiri tidak lepas dari sinergi dan dukungan berbagai pihak. Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama FORSASE dengan Dr. Badikenita Sitepu, SE., M.Si. (Ketua Komite II DPD RI), serta didukung penuh oleh Pemkab Karo, pengacara kondang Dr. Minola Sebayang, S.H., M.H., Beres Sinulingga, S.H., M.H., Tama Uli Ginting, serta para donatur lainnya yang peduli terhadap pelestarian seni dan budaya Karo.
Sebagai bentuk apresiasi dan langkah awal karier seni mereka, pasangan Juara 1 David Tarigan dan Jedida beru Sinukaban dijadwalkan akan langsung tampil mengisi acara pada pembukaan Pesta Bunga dan Buah di Berastagi yang akan digelar pada 30 Juli 2026 mendatang.
Berikut adalah daftar lengkap para peraih juara dalam ajang Grand Final Festival Perkolong-kolong FORSASE Mencari Bakat:
- Juara 1: David Tarigan dan Jedida beru Sinukaban
- Juara 2: Rafael Sitepu dan Embarina beru Ginting
– Juara 3: Ricardo Sembiring dan Gracia beru Sinulingga
- Juara Harapan: Jamin Tarigan dan Aurelia beru Sitepu
- Juara Favorit: Jeki Barus dan Risna beru Sembiring
Kritik dan Harapan dari Dewan Penasehat FORSASE
Ketua Dewan Penasehat FORSASE (Forum Sosial Seniman Ermediate), Raja Edward Sembiring, mengungkapkan keprihatinannya atas pergeseran nilai yang terjadi pada seni perkolong-kolong saat ini. Menurutnya, banyak praktisi perkolong-kolong yang sudah menyimpang dari aturan budaya Karo asli—baik dari segi seni tari yang mengarah ke joget dangdut, cara komunikasi di atas panggung, cara berpakaian, dan aspek lainnya.
”Kita tidak mau seniman perkolong-kolong itu dianggap murahan akibat perilaku yang terkadang seronok dan berbahasa jorok, tidak beradat dan berbudaya di atas panggung. Atas dasar itulah kami buat festival adu perkolong-kolong FORSASE mencari bakat ini. Saya juga sebagai pelaku seni kurang setuju kalau para seniman dilecehkan akibat perbuatan segelintir perilaku seni yang tak beretika,” ujar Raja Edward.
Sebagai bagian dari komitmen pelestarian, ia juga menyoroti pentingnya penggabungan unsur musik tradisional dalam setiap hajatan budaya, seperti kolaborasi keyboard dengan kulcapi, sarune, dan gendang anak indong pada acara kerja tahun di Kabupaten Karo. Langkah ini didorong melalui usulan ke Pemkab Karo agar seni budaya tetap bertahan di tengah perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas.
Selain itu, Raja Edward menekankan pentingnya penggunaan bahasa Karo dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari lingkungan keluarga di rumah, guna mencegah kepunahan bahasa ibu di tengah masyarakatnya sendiri. Ia juga mendorong pembentukan sanggar pelestarian seni secara bertahap di Berastagi, Kabanjahe, Singalor Lau, hingga ke seluruh kecamatan di Kabupaten Karo, serta pembenahan penulisan toponimi (nama tempat) agar sesuai dengan kaidah bahasa Karo yang benar, serta penerapan kurikulum bahasa dan aksara Karo di sekolah-sekolah.
Komitmen FORSASE dan Panitia Pelaksana
Senada dengan hal tersebut, Ketua FORSASE sekaligus seniman dan pengusaha emas (CV Bintang Mas Medan), Handai Tarigan, menegaskan bahwa tujuan utama dari festival ini adalah mengembalikan marwah seni tradisi leluhur.
”Pelestarian budaya dan melahirkan bibit perkolong-kolong yang sebenarnya adalah untuk menghargai budaya yang dilahirkan leluhur, bagaimana sebenarnya perkolong-kolong itu, di mana sekarang banyak perkolong-kolong tidak sesuai dengan namanya,” ungkap Handai Tarigan.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival, Harto Tarigan, di akhir acara menegaskan bahwa seni tari perkolong-kolong merupakan warisan kearifan lokal yang wajib dijaga bersama.
”Jadi melalui festival perkolong-kolong ini, kita dapat menemukan bakat-bakat alami yang dapat mempertahankan nilai norma budaya kinikaron-ta,” pungkasnya.
Melalui suksesnya penyelenggaraan festival ini, diharapkan regenerasi seniman muda Karo yang beretika, beradat, dan menjunjung tinggi nilai budaya dapat terus tumbuh dan menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian warisan leluhur Karo. (msp)







