TEBINGTINGGI, Sumutpost.id – Aroma pungutan parkir tanpa pelayanan kembali menyengat di Pasar Inpres, Jalan Gurami, Kelurahan Badang Bejuang, Kota Tebingtinggi.
Seorang warga, Echy Sirait, mengaku diperlakukan kasar oleh oknum juru parkir saat hendak meninggalkan lokasi usai berbelanja, Sabtu pagi 18 April 2026 sekira pukul 07.00 Wib.
Echy menuturkan, ia memarkirkan sepeda motor secara mandiri tanpa bantuan juru parkir di depan lapak pedagang telur kepunyaan usaha temannya. Namun saat hendak pergi, ia justru dikejar dan dimintai uang parkir. Penolakan yang disampaikan Echy dengan alasan logis justru berujung makian dari jukir.
“Saya parkir sendiri, keluar sendiri, karcis parkir juga tidak diberi tapi tetap diminta uang. Saat saya menolak, saya malah dimakinya” ujar Echy.
Cekcok pun tak terhindarkan. Echy mengaku mendapat kata-kata kasar dari oknum jukir yang sering disapa orang dengan sebutan nama Manik itu. Situasi semakin memanas saat ia mencoba mendokumentasikan Manik. Bukannya mereda, Manik justru menantang untuk diviralkan.
“Dia bilang, ‘mau kau viralkan aku’, anji**? Gak takut aku,” kata Echy menirukan ucapan oknum tersebut.
Insiden ini kembali membuka borok lama yakni juru parkir yang absen saat dibutuhkan, namun agresif saat menarik pungutan. Fungsi pengaturan dan pengamanan nyaris tak terlihat, digantikan oleh praktik penagihan tanpa dasar pelayanan.
Menanggapi pengaduan tersebut, Kepala Dinas Perhubungan Kota Tebingtinggi, Bernard Yustin Hutapea, mengaku telah menerima laporan langsung dari Echy dan memastikan langkah cepat akan diambil oleh pihaknya.
“Terima kasih infonya Bu, segera kami tindak lanjuti terhadap apa yang ibu alami dalam pelayanan jukir,” tulis Bernard dalam pesan WhatsApp kepada Echy.

Ia menyebut, perintah langsung telah diberikan kepada Ka UPTD Parkir untuk turun ke lokasi dan menindak oknum yang bersangkutan. Kepala UPTD Parkir, Binsar Sirait, bahkan disebut telah melakukan pembinaan di lapangan.
“Ka UPTD Binsar Sirait sudah ke lapangan untuk melakukan pembinaan dan teguran kepada jukirnya,” sebut Bernard.
Meski respons cepat patut dicatat, persoalan mendasarnya tetap menggantung, yakni mengapa praktik serupa terus berulang? Teguran demi teguran terdengar rutin, namun efek jera nyaris tak pernah terasa. (msp)








