IKLAN
DAERAH  

Sarma Hutajulu Bersama Sherly Napitu Salurkan 150 Ton Bantuan ke 18 Kecamatan di Tapteng

Ketua Tim Relawan, Sarma Hutajulu. (Aris Barasa/Sumutpost.id)

TAPTENG, Sumutpost.id – Sarma Hutajulu bersama influencer Sherly Napitu menggalang donasi dan membentuk tim relawan kemanusiaan membantu musibah banjir dan tanah longsor yang terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Sarma mengungkap, kegiatan misi kemanusiaan itu mendapat banyak dukungan dari teman dari belbagai negara. Doliantaranya, Dina Silalahi pejuang kanker, Norma Sinaga, pejuang lingkungan, Mariani Songket dan lainnya.

“Puji Tuhan, respons netizen itu sungguh luar biasa. Kita mengkampanyekan bagaimana menolong teman-teman, saudara-saudara kita yang di Tapanuli Tengah,” ungkap Sarma Hutajulu kepada wartawan di Pandan, Jumat malam (12/12/2025).

BACA JUGA..  Wabup Lom Lom Suwondo: Generasi Muda Harus Memahami Budaya Bangsa

Mereka pun bersepakat membuka rekening donasi atas nama Sarma Hutajulu dan berhasil mengumpul dana hingga mencapai Rp 1,8 miliar yang kemudian dibelanjakan dalam bentuk barang dan sembako.

“Kami ada dua tim, yakni saya sendiri yang hampir dua minggu di sini, kemudian Ibu Dina Silalahi dengan tim relawannya,” sebut Sarma.

Bantuannya lebih kurang 150 ton, ada sembako, selimut, handuk, tikar, terpal, obat-obatan, dan lainnya.

Sarma mengatakan, bantuan tersebut sudah didistribusikan hampir di 18 kecamatan yang ada di Tapteng. Dikatakan, distribusi bantuan lebih diutamakan ke dapur-dapur pengungsi. Kemudian, langsung menyentuh ke masyarakat korban banjir dan longsor.

BACA JUGA..  Bupati Bersama Yayasan Tzu Chi Indonesia Tinjau Rencana Lokasi Pembangunan Hunian Korban Bencana di Tapteng

“Kami juga sudah menjelajahi beberapa desa yang parah, seperti di Kecamatan Tukka, Badiri dan lainnya,” katanya.

Sarma pun mengapresiasi rekan tim relawan yang telah membantu percepatan distribusi bantuan.

Menurut Sarma, selain Tapteng, bantuan itu juga didistribusikan ke Aek Parombunan dan Sibolga Julu, Kota Sibolga.

Melewati medan yang sulit
Sarma mengungkap, proses membawa bantuan kemanusiaan untuk korban bencana tidaklah mudah, karena akses jalan menuju Tapteng banyak terputus.

“Sejak awal, kami memang kesulitan. Banyak pula netizen mempertanyakan kenapa pergerakan bantuan lambat,” ungkapnya.

BACA JUGA..  Ratusan Buruh ANJ Gelar Aksi Mogok Kerja Terkait PHK Sepihak

Setelah berkomunikasi dengan Bupati Masinton Pasaribu, bantuan tahap pertama itu diorder dari Subulusalam, sekaligus percobaan apakah jalur itu bisa dipakai.

“Bantuan trip kedua, kami dari Medan berhasil melewati jalur itu meski jarak tempuhnya lebih jauh. Karena BBM juga krisis, perjalan kami hampir dua hari,” ungkapnya.

Sampai di Sorkam, bantuan sempat terhenti karena jembatannya hanya bisa dilalui kendaraan yang tonasenya tak lebih dari 2 ton.

“Kami pun berkomunikasi dengan Pak Bupati dan Pak Gubernur, supaya akses itu diperbaiki dan bisa dipakai membawa bahan bantuan,” ucap Sarma. (msp)