MEDAN, Sumutpost.id – Kematian wartawan bernama Nicolas Saragih alias Nico masih menyimpan luka terhadap seluruh wartawan di Kota Medan. Hingga kini, kasus pria berusia 33 tahun (sebelumnya disebut 38 tahun) itu masih dilakukan penyelidikan pihak kepolisian.
Hal ini dijelaskan oleh Kanit Reskrim Polsek Medsn Baru, Iptu Paul M Tambunan kepada awak media.
“Kita masih melakukan penyelidikan atas kasus kematian Nico,” kata Tambunan, Sabtu (6/9) malam.
“Semalam (Jumat 5 Agustus 2025) pihak keluarga (Nico) menolak untuk jenazah Nico dilakukan autopsi. Meski begitu dalam kasus ini, kita telah memeriksa 4 orang saksi, termasuk pacarnya Nico inisial I,” sambung Tambunan.
Menutup, mantan Kanit Reskrim Polsek Medan Area itu mengucapkan bela sungkawanya terhadap meninggal dunia Nico.
“Alamarhum Nico pribadi baik dan saya kenal dia orang yang mudah bergaul. Kepergiannya meyisahkan luka bagi saya. Karena ia wartawan yang cukup sering berkomunikasi prihal berita di Polsek Medan Baru,” ujar Tambunan dengan mata yang berkaca-kaca.
“Untuk keluarga yang ditinggalkan, diharapkan tabah atas kepergiannya,” tutup Iptu Paul M Tambunan.
Diberitakan sebelumnya, Nicolas Saragih alias Nico meregang nyawa setelah mendapat perawatan di Rumah Sakit Umum (RSU) Adven, akibat terjatuh dari kamar kamar mandi kos yang berada di Jalan PWS, Kecamatan Medan Petisah, Jumat (5/9) pagi.
Ibu Korban: Kami Minta Polisi Usut Tuntas
Sementara itu, keluarga dari Nico sapaan akrab Nicolas Saragih, meminta kepolisian ungkap penyebab pasti kematian korban.
Hal ini diungkapkan ibu korban, Neti Hutajulu, saat ditemui wartawan di RS Bhayangkara, Jumat (5/9) malam.
Menurut ibu korban, kematian anak bungsunya dari tiga bersaudara itu dinilai tidak wajar, lantaran ditemukan sejumlah luka dibagian kepala, tangan hingga kaki.
Oleh sebab itu, Neti (ibu korban) berharap agar pihak kepolisian dapat segera mengungkap penyebab pasti kematian anaknya.
“Saya berharap pihak kepolisian bisa mengungkap penyebab pasti kematian anak saya ini. gak mungkin dia jatuh dari kamar mandi, pasti ini dia meninggal karna dianiaya,” kata Neti.
Selain itu, Neti juga bercerita, jika tiga hari sebelum Nico dikabarkan meninggal, dirinya sempat menelphone untuk meminta anak bungsunya itu pulang ke kampung halaman di Kabupaten Simalungun.
“Dia ini uda lama gak pulang, tiga hari lalu sempat saya telphone minta dia pulang. Terus dibilangnya iya mak pulang aku nanti. Rupanya seperti ini kejadiannya, pulang dia untuk selamanya,” tutup Neti dengan mata berkaca-kaca. (msp)







