JAKARTA, Sumutpost.id – Indonesia memperkuat posisinya di kancah kesehatan global dengan menjadikan jamu sebagai komoditas strategis. Komitmen ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan Dewan Jamu Indonesia.
Kerja sama ini berfokus pada penguatan riset, hilirisasi produk, dan pengembangan jamu sebagai warisan budaya bangsa.
Kepala BPOM, Prof. Taruna Ikrar, menegaskan bahwa sinergi lintas sektor ini adalah kunci utama. Ia menyebut konsep ABG (Akademisi, Bisnis, Pemerintah) sangat penting agar hasil penelitian dari kampus tidak berhenti di laboratorium, melainkan menjadi produk yang mampu bersaing di pasar global. “Hilirisasi adalah senjata kita,” tegas Taruna, Kamis, 25 September 2025.
“Inovasi kampus harus sampai ke industri, dunia usaha harus berani mengembangkan, dan BPOM siap mengawal agar semua produk aman, bermutu, dan berkhasiat. Inilah jalan bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama di pasar global,” tegasnya.
Tantangan dan Peluang Jamu
Indonesia diberkahi keanekaragaman hayati dengan lebih dari 30 ribu jenis tanaman obat. Namun, dari 18 ribu produk jamu yang terdaftar di BPOM, baru 71 yang berstatus Obat Herbal Terstandar (OHT) dan 20 yang menjadi Fitofarmaka.
Fakta ini menjadi dorongan besar bagi kerja sama BPOM–UNJ–Dewan Jamu. Kolaborasi ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), pembinaan pelaku usaha, hingga literasi masyarakat mengenai produk kesehatan berbahan dasar alam.

Penandatanganan MoU ini juga bertepatan dengan Seminar Nasional Jamu 2025 yang mengusung tema penguatan jamu dalam perspektif ketahanan nasional.
“Jamu adalah jati diri bangsa. Kita tidak hanya ingin melestarikan, tapi juga menjadikannya produk yang membanggakan di pasar dunia. Dengan hilirisasi yang terarah, jamu bukan sekadar warisan, melainkan juga masa depan,” tambah Taruna.
Kolaborasi ini secara langsung mendukung Visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam agenda penguatan SDM dan hilirisasi industri berbasis riset alam lokal.
Hal yang sama disampaikan Ketua Umum Dewan Jamu Indonesia, Mayjen TNI (Purn) Daniel Tjen. Menurutnya, semua pihak karus berkolaborasi semua pihak.
“Satu sisi, badan POM sudah membuka ruang yang besar untuk regulagi bagaimana kita bisa naik kelas sebagai anak bangsa,” ujarnya kepada media. (msp)







