IKLAN

Polisi Diminta Tangkap Penganiaya Ketua HIMNI Tapteng

Ketua PAC HIMNI Kecamatan Tukka, Yuliansyah Mendrofa. (ist/Sumutpost.id)

TAPTENG, Sumutpost.id – Peristiwa penganiayaan dan pengeroyokan terhadap Ketua DPC HIMNI Tapteng, Famoni Gulo, menarik perhatian warga suku Nias.

Famoni Gulo yang juga Tim Satgas Anti Politik Uang PDIP, diduga menjadi korban penganiayaan oleh sekelompok orang, di Kelurahan Sarudik, Kecamatan Sarudik, pada Senin dini hari 25 November 2024.

Ketua PAC HIMNI Kecamatan Tukka, Yuliansyah Mendrofa, meminta aparat kepolisian segera menangkap para pelakunya.

BACA JUGA..  Geruduk Polres Taput! Ribuan Perempuan Tuntut Segera Tangkap Pelaku Penyebaran Konten Hoaks Asusila

“Kami bersama perwakilan 20 kecamatan HIMNI di Tapteng, menuntut para pelaku penganiaya segera diproses hukum. Pak Famoni Gulo adalah marwah bagi organisasi kami,” kata Yuliansyah Mendrofa dalam keterangan pers, Senin sore.

Warga HIMNI berharap, polisi serius menangani kasus penganiayaan tersebut, agar tidak terjadi perpecahan dan keributan yang lebih meluas.

Pada kesempatan yang sama, Famoni Gulo juga mengungkap kronologi peristiwa penganiayaan yang dialaminya.

BACA JUGA..  Dalam Beberapa Hari Ini, BPBD Catat 31 Orang Akibat Bencana Alam di Sumut

Dia mengaku menjadi korban penganiayaan karena aktif melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap praktik money politics (politik uang) pada Pilkada Tapteng 2024.

“Pascakejadian, saya langsung membuat laporan ke Polres Tapteng. Kita negara hukum, maka kita serahkan kepada hukum,” katanya.

Famoni Gulo menjelaskan, kejadian berawal setelah pihaknya mendapat informasi terjadi praktik money politics yang diduga dilakukan Paslon nomor urut 1, Khairul Kiyedi Pasaribu-Darwin Sitompul (KEDAN).

BACA JUGA..  Edy Rahmayadi Akui Kena Lemparan Botol Pasca Debat Pilgub Sumut

“Saat melakukan patroli sekitar pukul 00.00 dini hari, kita menerima informasi bahwa ada tim BS yang diduga membagi uang di simpang Puskesmas Sarudik. Kami pun menghubungi Bawaslu Tapteng,” katanya.

Menurut Famoni, dirinya menerima kekerasan fisik dari sekitar dua puluhan orang yang dikoordinir oleh Willy dan Antonius atas perintah BS yang berada di lokasi kejadian. (msp)