IKLAN
DAERAH  

Mutu Kawat Bronjong Desa Bahagia dan Desa Marpunge Disorot Tajam, PT Hutama Karya Didesak Buka Hasil Uji Material

Jenis kawat bronjong. (Ist/Sumutpost.id)

AGARA, Sumutpost.id — Perbedaan kondisi visual kawat bronjong pada sejumlah proyek pengaman sungai di Aceh Tenggara dan Gayo Lues menjadi perhatian masyarakat dan pekerja lapangan. Sorotan utama tertuju pada kualitas lapisan galvanis atau zinc coating yang berfungsi melindungi kawat dari korosi dan karat.

Dari pengamatan visual di lapangan, kawat bronjong yang dikerjakan vendor di Kecamatan Ketambe di lokasi naga kesiangan, Lawe Penanggalan, Lak-Lak, di Desa Ketambe dan juga Simpur langsung Pengadaan Kawat Bronjong Oleh PT Hutama Karya untuk proyek Balai Wilayah Sungai (BWS)  Sumatera I, tampak lebih mengkilat, terang, dan merata. Permukaan kawat terlihat memiliki lapisan galvanis yang relatif baik dengan pantulan cahaya yang masih kuat dan sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

Secara teknis, kondisi tersebut umumnya menunjukkan: ketebalan zinc coating yang baik,
daya lekat galvanis yang kuat,
ketahanan korosi lebih tinggi,
serta perlindungan material yang lebih optimal terhadap kelembapan dan air sungai.

BACA JUGA..  Tingkatkan Kualitas Koperasi, Diskop UKM Agara Gelar Pelatihan Perkoperasian

Material dengan kondisi galvanis seperti itu lazim digunakan untuk pekerjaan pengaman sungai karena memiliki daya tahan lebih baik terhadap oksidasi jangka panjang.

Sementara itu, pada pekerjaan bronjong milik PT. Hutama Karya (HK) Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, yang dikerjakan vendor berinisial SNS dan IWH, termasuk pengadaan kawat bronjong yang turut ditanggung oleh vendor, di Desa Bahagia, Kecamatan Lawe Bulan, Kabupaten Aceh Tenggara serta Desa Marpunge, Kecamatan Putri Betung Kabupaten Gayo Lues, ditemukan kawat bronjong dengan permukaan tampak lebih kusam dibanding material pembanding yang digunakan pada proyek lain.
Kondisi tersebut memunculkan dugaan perbedaan kualitas material yang digunakan di lapangan.

Berdasarkan analisa visual sementara, kilap galvanis terlihat berkurang, warna kawat tampak lebih redup, dan terdapat indikasi oksidasi lebih cepat pada beberapa bagian.

Dalam praktik konstruksi, kondisi kawat yang kusam dapat mengindikasikan lapisan galvanis lebih tipis atau kualitas coating zinc berbeda. Namun, penentuan resmi mengenai kesesuaian standar SNI tetap harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium seperti: uji ketebalan galvanis, uji berat coating zinc, uji daya lekat galvanis, serta uji ketahanan korosi sesuai standar teknis yang berlaku.

BACA JUGA..  Dinas Lingkungan Hidup Deliserdang Memperingati HPSN 2025 di Galang

Pakar konstruksi bidang pembesian dan material sipil juga menegaskan bahwa penilaian akhir tidak cukup hanya berdasarkan tampilan visual, melainkan harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium dan pemeriksaan spesifikasi teknis.

Pemeriksaan itu meliputi: diameter kawat, kekuatan tarik, tingkat kelenturan, ketebalan lapisan seng,
hingga sertifikat mutu material sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).

“Jika benar material yang digunakan tidak sesuai spesifikasi teknis maupun SNI, maka kualitas dan umur konstruksi bronjong dapat dipertanyakan,” ujar seorang pengamat konstruksi.

Sejumlah pihak kini mendesak agar instansi terkait segera melakukan uji independen terhadap material bronjong yang digunakan di lapangan guna memastikan mutu pekerjaan sesuai standar proyek pemerintah.

BACA JUGA..  Tiba di Tapsel, Wapres Gibran Tinjau  Sungai Garoga dan Posko Pengungsian PT Agincourt Resources

Tokok Masyarakat dan Pengiat juga meminta pihak PT Hutama Karya dan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, segera melakukan evaluasi teknis menyeluruh terhadap material bronjong yang digunakan di lokasi pekerjaan. Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh pekerjaan benar-benar memenuhi spesifikasi teknis serta memiliki ketahanan jangka panjang terhadap arus sungai dan perubahan cuaca, jika tidak sesuai SNI sebaiknya dibongkar pungkasnya secara tegas.

Pengawasan mutu material bronjong dinilai menjadi faktor utama dalam menjaga kualitas bangunan pengaman sungai. Sebab, kualitas galvanis sangat mempengaruhi daya tahan kawat terhadap karat, deformasi, dan penurunan kekuatan struktur dalam jangka panjang.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak PT. Hutama Karya Bagian Wilayah Sungai Sumatera I, dan pelaksana proyek terkait dugaan perbedaan mutu dan karakter kawat bronjong tersebut. (msp)