IKLAN

17 Tahun Jalan Tidak Pernah Diaspal, Masyarakat Kecamatan Pematang Jaya Apatis kepada Semua Paslon Bupati Langkat

Beginilah kondisi jalan utama menuju pusat Kecamatan Pematang Jaya di Kabupaten Langkat. (Ramlan Az/Sumutpost.id)

LANGKAT, Sumutpost.id – Euforia atau kegembiraan menjelang pemilihan Bupati tidak dirasakan masyarakat Kecamatan Pematang Jaya, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Rasa tidak percaya kepada siapapun bupati yang terpilih nantinya, sudah melekat di hati mereka. Pasalnya, 17 tahun sejak kecamatan itu dimekarkan tidak sekalipun jalan disana dibangun pemerintah.

Kondisi memprihatinkan itu diketahui saat Sumutpost.id melakukan perjalanan ke Kecamatan paling ujung di sebelah barat Kabupaten Langkat. Kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, NAD, dimekarkan pada 10 Desember 2007 silam sesuai dengan Perda Kabupaten Langkat No:27/2007 tentang Pembentukan Kecamatan. Kecamatan Pematang Jaya dimekarkan dari dua kecamatan induk; Besitang dan Pangkalan Susu.

Keterangan dan hasil pandangan langsung Sumutpost.id di lokasi, jalan menuju pusat Kecamatan Pematang Jaya sebahagian besar tidak pernah tersentuh pengaspalan hotmix, seperti daerah lain di Kabupaten Langkat.

BACA JUGA..  Guru Darul Mursyid Dilatih KBC 2026

Masyatakat disana, kepada Sumutpost.id menjelaskan bahwa selama 17 tahun daerah mereka berdiri menjadi kecamatan baru, infrastruktur pembangunan jalan sangatlah minim.

“Kami ini seakan dilupakan pemerintah Langkat. Makanya kami tidak ada semangat mau pilkada ini. Siapapun Bupati Langkat, ya nasib kampung kami ini sama aja. Bayangkanlah bang, 17 tahun sama dengan 3 bupati berganti, kampung kami tidak dibangun (jalannya),” ujar warga.

Selanjutnya Sumutpost.id pun menjajal jalan utama dari perbatasan kecamatan Kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang, menuju pusat kecamatan. Belasan kilo meter jalan yang dilalui Sumutpost.id tingkat kerusakannya sangat parah. Lubang dimana-mana aspal tidak ada, debu memenuhi sepanjang jalan.

Selanjutnya, dari pusat Kecamatan Pematang Jaya menuju Desa Salah Haji, juga tidak kalah parah. Di jalur ini, bila musim hujan akan sangat sulit dilalui karena genangan air dan lumpur.

BACA JUGA..  Kapolres Tapteng Periksa Handpone Anggota, Pastikan Tidak Terlibat Judi Online

Akibat kondisi jalan yang sangat parah ini, masyarakat pun mengaku sangat kesulitan membawa hasil pertaniannya dijual keluar daerah.

Ingin ke Kota Stabat, Masyarakat Memilih Lewat Provinsi Aceh

Kondisi sulit makin dirasakan masyarakat di Kecamatan Pematang Jaya. Kalau ingin mengurus berbagai jenis administrasi kependudukan, masyarakat harus melalui provinsi tetangga Nangroe Aceh Darussalam (NAD) tepatnya dari Kecamatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang.

Hal itu dikatakan Kepala Desa Salah Haji, Lestari,S.PDI kepada Sumutpost.id. Dijelaskannya, belum lama ini jalan disana pernah dilakukan pengukuran oleh petugas dari Kabupaten Langkat, tepatnya dari Gang Yeye Desa Halaban ke Desa Salah Haji sepanjang 21 KM. Sementara Kalau dari simpang Tungkam ke Desa Salah Haji hanya 17.5 KM, kata Lestari.

BACA JUGA..  LIPPSU: Hutan Sumut Sudah Kronis, Cabut Izin PT TPL

“Jika pembangunan jalan ini bisa terealisasi maka ini sangat memudahkan bagi masyarakat karena jarak tempuh dari Kecamatan Pematang Jaya menuju pusat Kabupaten Langkat semakin dekat yang selama ini harus mutar melalui jalan Aceh Tamiang,” kata Mahyuni, tokoh masyarakat Pematang Jaya..

Masih Mahyuni, katanya jika pemerintah  Kabupaten Langkat sunguh-sunguh ingin membangun jalan ini tidak ada kata mustahil. Karena, jalan dari Desa Halaban menuju Desa Salah Haji memang sudah ada sejak lama yang telah beberapa kali dikerjakan melalui program TMMD.

Mahyuni juga menjelaskan, bahwa selama ini untuk memperbaiki jalan dari Desa Salah Haji sampai ke perbatasan Desa Suka Jaya Kecamatan Besitang, hanya sekedar pengerasan yang dilakukan oleh Kepala Desa dari Dana Desa (DD). (msp)