MEDAN, Sumutpost.id – Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) optimis bahwa pengadilan akan mengungkap kebenaran atas persidangan yang akan menghadirkan Roy Suryo dan dr Tifa terkait masalah dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
“Persidangan ini akan mengungkap kebenaran untuk mengakhiri kegaduhan di tengah publik. Kami optimistis bahwa hakim pengadilan akan mengungkap kebenaran ini, apakah Jokowi sebagai korban fitnah atau memang terbukti menggunakan ijazah palsu,” ujar Gandi Parapat.
Gandi menilai pihak kepolisian sudah memiliki standar operasional prosedur saat menangani kasus yang menyeret Roy Suryo dan dr Tifa. Termasuk melakukan penangkapan yang pada akhirnya mengundang perhatian masyarakat. Saat ini, masyarakat terpecah atas kasus yang menghebohkan tersebut.
“Kami tidak memahami seperti apa prosedur penangkapan oleh polisi terhadap Roy Suryo dan dr Tifa tersebut. Ini juga kesempatan bagi Roy Suryo dan dr Tifa untuk membuktikan kebenaran dari tuduhan yang disampaikan ke publik. Pengadilan merupakan ruang terbuka untuk mengungkap kebenaran itu,” katanya.
Gandi tidak memungkiri, empati masyarakat semakin meningkat terhadap Jokowi setelah kasus dugaan ijazah palsu tersebut. Bahkan, tuduhan ini tanpa secara langsung justru meningkatkan elektabilitas Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang tidak lain adalah putra mahkota dari Jokowi.
“Berbeda dengan Presiden Prabowo, elektabilitas Gibran Rakabuming Raka justru semakin bertambah besar. Ini tak terlepas dari sosok Jokowi yang tetap berusaha tenang dalam menghadapi tuduhan maupun fitnah yang diarahkan kepada dirinya. Gibran juga tetap tenang dengan tidak memanfaatkan kekuasaannya,” ungkapnya.
Menurut Gandi, kasus dugaan penggunaan ijazah palsu yang menyeret Jokowi itu menjadi dilematis. Kegaduhan yang muncul di tengah publik justru menambah empati masyarakat terhadap Jokowi beserta keluarga. Termasuk Gibran Rakabuming Raka maupun Kaesang Pangarep, nama baiknya semakin diterima masyakakat.
“Ini menjadi fenomena, yang mana dari sejak Jokowi maju sebagai calon presiden (Capres) pada tahun 2014 hingga 2019, tidak pernah luput dari tuduhan fitnah. Kepemimpinan Jokowi yang tidak menaruh dendam dan memaafkan lawan politiknya, membuat dirinya semakin dicintai rakyatnya,” ungkap Gandi lagi.
Bahkan sambung Gandi, banyaknya pembangunan insfrastruktur di era pemerintahan Jokowi, membawa kebahagiaan untuk masyarakat. Berbeda dengan era pemerintahan saat ini, belum ada satu pun pembangunan yang berdampak positif bagi masyarakat di berbagai daerah.
“Pemerintahan sekarang lebih menonjolkan program makanan bergizi gratis (MBG), koperasi merah putih, pembangunan perumahan subsidi. Meski program MBG yang bernuansa korupsi seperti yang diungkap kejaksaan ini, sudah membuktikan terjadinya penyimpangan, justru Presiden Prabowo tetap mempertahankan program tetsebut,” katanya. (msp)







