MEDAN, Sumutpost.id – Pernyataan Gubernur Sumut Bobby Nasution yang menyebut penyebab keracunan siswi di Karo akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) “belum jelas” dan membuka opsi pengobatan tradisional, mendapat kecaman keras dari Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI).
Koordinator PMPHI Gandi Parapat menilai, pernyataan orang nomor satu di Sumut itu justru membingungkan publik dan terkesan mengalihkan persoalan utama.
“Kami percaya dengan ilmu kedokteran. Penjelasan para dokter yang menangani para pasien korban keracunan itu, sudah sangat jelas dan dimuat di berbagai media,” tegas Gandi Parapat kepada media, Kamis (10/9/2026).
Kejahatan Terselubung
Lebih jauh, Gandi justru menyoroti adanya kejanggalan di balik rangkaian kasus keracunan MBG yang menimpa siswa di Berastagi, Karo. “Yang kami pikirkan saat ini adalah, apakah ada unsur kesengajaan yang dilakukan pihak-pihak tertentu untuk meracuni sehingga generasi bangsa jadi korban. Soalnya, peristiwa keracunan anak anak generasi bangsa ini demikian sangat masif di Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan itu dilontarkan Gandi setelah membaca keterangan para dokter yang menangani korban di RSUP H. Adam Malik Medan di berbagai media. Salah satunya siswi Febi Yona Boru Purba yang didiagnosa mengalami racun jamur di saraf kepala hingga daya ingat berkurang. Bagi Gandi, dampak yang ditimbulkan jauh dari sekedar “makanan basi”.
“Masalah makanan basi atau daluwarsa, berjamur menurut kami tidak terlalu berbahaya. Paling berakibat mencret atau mual. Jadi tidak begitu berbahaya. Karena beberapa kali saya makan nasi basi karena saya merasa sayang dibuang,” katanya.
“Jadi berita-berita keracunan MBG ini sangat kami curigai ada kejahatan terselubung untuk bangsa dan negara RI,” tegasnya.
Presiden Harus Turun Tangan
Atas dasar dugaan tersebut, PMPHI mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengambil alih penanganan kasus keracunan MBG secara nasional. “Presiden Prabowo jangan berpangku tangan membiarkan generasi penerus keracunan,” kata Gandi.
“Kami mohon agar bapak presiden menunda kegiatan lain untuk berpikir mengatasi keracunan MBG karena untuk generasi bangsa dan negara RI,” desaknya.
Terkait aksi warga yang menghancurkan dapur MBG di Karo, Gandi menyebutnya sebagai reaksi wajar. “Dengan masyarakat Karo yang menghancurkan dapur MBG menurut kami hal yang wajar karena kepanikan atas peristiwa,” pungkasnya.
Sebelumnya, Polres Karo menyatakan masih melakukan penyelidikan terkait kasus keracunan MBG yang menimpa puluhan siswa di Berastagi. (msp)








