IKLAN

Pasien Lansia Kondisi Sekarat Ditolak RSUD Kumpulan Pane Tebingtinggi

Inilah lansia bernama Suliyem (67), warga Kelurahan Berohol, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi, dengan kondisi sekarat ditolek pihak RSUD Kumpulan Pane Tebingtinggi. (AM Sitorus/Sumutpost.id)

TEBINGTINGGI, Sumutpoat.id – Sebuah video yang memperlihatkan seorang pasien lansia terbaring lemah di dalam ambulans di depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kumpulan Pane, Kota Tebingtinggi, viral di media sosial, Kamis (8/1/2026).

Dalam video tersebut, keluarga pasien tampak menangis setelah permintaan rawat inap ditolak dengan alasan ruang perawatan penuh.

Pasien lansia dalam video itu diketahui bernama Suliyem (67), warga Kelurahan Berohol, Kecamatan Bajenis, Kota Tebingtinggi. Ia dibawa ke RSUD Kumpulan Pane dalam kondisi sesak napas dan membutuhkan penanganan medis segera.

Anak pasien yang belakangan diketahui Sunita, mengatakan ibunya mulai mengalami sesak napas sejak pagi hari karena komplikasi penyakit yang diderita. Sekitar pukul 07.00 WIB, ia meminta bantuan Kepala Lingkungan setempat untuk meminjam ambulance milik seorang warga Kelurahan Berohol.

BACA JUGA..  PRT Asal NTT Tewas Di Rumah Majikan: Polsek Sunggal Sebut Hasil Autopsi Sudah Keluar, Belum Dipublikasikan

Dengan menggunakan ambulance tersebut, Sunita membawa ibunya ke RSUD Kumpulan Pane. Namun setibanya di rumah sakit milik pemerintah daerah itu, mereka justru diminta mencari rumah sakit lain.

“Bayangkan bang, dari pagi saya sudah pontang-panting mencari kendaraan untuk membawa orang tua saya yang sakit. Tapi sampai di RS Kumpulan Pane malah ditolak,” ujar Sunita.

Menurut Sunita, alasan yang disampaikan pihak rumah sakit adalah seluruh ruang rawat inap dalam kondisi penuh. Ia menyebut, ibunya belum sempat mendapatkan penanganan atau dibawa masuk ke ruang perawatan.

BACA JUGA..  11,7 Hektare Hutan Lindung Pantai Labu Terindikasi Diserobot PT TUN Sewindu

“Mamak saya sudah sekarat, bahkan dibilang hampir meninggal, tapi kok tega mereka bilang ruangan tidak ada dan menyuruh kami cari rumah sakit lain,” kata Sunita.

Sunita mengungkapkan, penolakan itu disampaikan oleh seorang petugas tenaga kesehatan (nakes) rumah sakit tanpa terlebih dahulu melakukan pengecekan lanjutan atau memberikan alternatif penanganan sementara di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

“Kami tidak ada disuruh masuk. Ketika kami datangi ke dalam, mereka malah menyarankan cari rumah sakit lain karena ruangan penuh. Tidak ada upaya untuk mengecek dulu. Memang kami ini orang susah, tapi kami juga manusia,” ucapnya.

BACA JUGA..  Update! Korban Meninggal Dunia Tabrakan KA Sribillah Utama Kontra Avanza Di Tebingtinggi Jadi 9 Orang

Dalam kondisi kelelahan dan belum makan, Sunita mengaku hanya bisa berharap pada bantuan warga sekitar. Berkat pertolongan warga, ia kemudian membawa ibunya ke Rumah Sakit Chevani, Kota Tebingtinggi.

“Karena ditolak di RS Kumpulan Pane, saya minta tolong warga. Alhamdulillah ditolong dan sekarang orang tua saya sudah dirawat di RS Chevani,” ujarnya.

Hingga berita ini dikirim, awak media masih berupaya mengonfirmasi peristiwa tersebut kepada Direktur RSUD Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi, drg. Lili Marliana, namun belum ada tanggapan resmi yang diberikan. (msp)