TAPSEL, Sumutpost.id – PT Agincourt Resources (PTAR) menjadikan masyarakat lokal sebagai pemangku kepentingan utama dalam strategi jangka panjang bisnis yang berkelanjutan. Melalui berbagai Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), PTAR telah aktif di 15 desa terdampak area tambang serta area di Tapanuli Selatan.
Pada tahun 2024, perusahaan menginvestasikan USD 2,7 juta dalam PPM yang memberikan manfaat langsung kepada lebih dari 32.696 individu melalui program pendidikan, kesehatan, bisnis lokal, infrastruktur, dan lainnya.
Berdasarkan Rencana Induk PPM 2018–2031, PTAR fokus pada 8 pilar pembangunan:
1. Pendidikan: Beasiswa Martabe Prestasi, fasilitas pendidikan
2. Kesehatan: Program operasi katarak, penyediaan dokter spesialis di desa
3. Pendapatan & Pekerjaan: Diversifikasi peluang berbasis potensi lokal
4. Pengembangan Bisnis & Ekonomi Lokal: Mendukung sentra usaha masyarakat
5. Pembangunan Infrastruktur: Perbaikan jalan, drainase, fasilitas umum
6. Masyarakat Berbasis Pengelolaan Lingkungan: Lubuk larangan, manajemen sampah
7. Kapasitas Kelembagaan Masyarakat: Peningkatan kapasitas kelembagaan lokal
8. Sosial dan Budaya: Revitalisasi seni, budaya, olahraga.
Hingga 2024, dana sebesar USD 2,7 juta telah disalurkan dengan dampak luas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar tambang.
“Melindungi lingkungan adalah bagian inti dari strategi operasional kami. Pengelolaan dampak keanekaragaman hayati di Tambang Emas Martabe mengikuti hierarki mitigasi—pendekatan terstruktur untuk menghindari, meminimalkan, memulihkan, dan, jika perlu, mengimbangi dampak terhadap ekosistem sekitar,” ujar Senior Manager Corporate Communications PT Agincourt Resources, Katarina Siburian Hardono.
Kami berkomitmen untuk meminimalkan jejak lingkungan dengan mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko keanekaragaman hayati di area proyek kami. Pendekatan kami berfokus pada pelestarian ekosistem, perlindungan spesies asli, serta pemulihan habitat. Secara aktif kami melibatkan komunitas lokal, para ahli/peneliti, dan regulator untuk memastikan praktik kami sejalan dengan standar lingkungan nasional maupun internasional.
“Melalui perbaikan berkelanjutan dan pengelolaan yang bertanggung jawab, kami berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan jangka panjang sekaligus mendukung pertumbuhan dan kesejahteraan wilayah tempat kami beroperasi,” jelas Katarina kepada media ini.
Di luar site Tambang Emas Martabe, PTAR secara aktif melestarikan lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Hal ini terbukti dari pengelolaan area mangrove seluas 29 hektar di Tapanuli Tengah, pengelolaan sampah plastik masyarakat melalui program “Aksi Bikin Ecobrick dari Hati untuk Bumi” yang mengasar pengumpulan dan pengolahan 10.000 botol plastik menjadi ecobrick, serta pelestarian penyu di Muara Opu.
“Upaya-upaya ini mendapat apresiasi dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Penghargaan PROPER Hijau yang diterima PTAR selama 2 tahun berturut-turut serta Penghargaan Penerapan Kaidah Teknik Pertambangan Terbaik Tahun 2024 dari Kementerian ESDM,” t3gas Katarina, sembari mengajak pembaca mengakses https://agincourtresources.com/id/ untuk mengetahui informasi tentang PPM dan pengelolaan lingkungan hidup.
Jawab Kritikan Tak Mendasar
Penjelasan rinci diatas adalah bagian dari upaya managemen PT AR untuk menjawab kritikan seorang pemerhati sosial Tabagsel yang akhir-akhir ini melontarkan pernyataan melalui media sosial dengan menyebut masih banyak warga Tapsel hidup dibawah kemiskinan padahal daerahnya kaya akan sumber daya alam.
Pengamat sosial bernama Sabar M Sitompul di facebook miliknya, menyebut bahwa keberadaan tambang emas martabe (PTAR) belum dapat melepaskan masyarakat Tapsel dari garis kemiskinan. Katanya, harusnya masyarakat Tapsel bisa bisa lepas dari garis kemiskinan karena alamnya sangat kaya. (msp)







