TAPTENG, Sumutpost.id – Pasangan calon (Paslon) Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Masinton Pasaribu-Mahmud Effendi Lubis (MAMA) nomor 2 mengatakan, peningkatan kesejahteraan nelayan kecil menjadi bagian dari program utama jika diberikan amanah sebagai pemimpin.
“Kami berkomitmen melindungi sumber mata pencarian nelayan kecil salah satunya dengan memberantas pukat harimau yang kehadirannya selama ini dikeluhkan nelayan kerena merusak habitat ikan” kata Masinton Pasaribu saat mengunjungi kelompok nelayan Kampung Bahari di Desa Mela II, Kecamatan Tapian Nauli, Tapteng, Selasa 12 November 2024.
Masinton Pasaribu juga akan memberi pelatihan dan pemberdayaan keluarga nelayan untuk menopang ekonomi rumah tangga. Serta menjaga ekosistem dan lingkungan pesisir pantai.
“Pemerintah itu hadir bukan sekadar memberikan alat tangkapnya saja. Tapi harus mencari solusi, bagaimana agar hasil tangkapan itu bisa memadai, sehingga nelayan kecil bisa hidup dengan layak,” sebut Masinton Pasaribu
Masinton Pasarubu mengungkap, pihaknya juga akan mendorong setiap komunitas nelayan untuk membentuk koperasi yang dikelola oleh kelompok nelayan itu sendiri.
“Koperasinya harus dikelola professional sehingga dapat berkembang untuk kesejahteraan nelayan kecil. Kalau kita jadi pemimpin, nanti akan kita siapkan pendampingnya,” ucap Masinton Pasaribu.
Masinton Pasaribu mengungkap, di beberapa daerah, banyak koperasi nelayan yang berhasil, bisa membangun pabrik es sendiri, serta kapal-kapal yang dikelola oleh anggota koperasi itu sendiri.
Sebelumnya, dalam kunjungan tersebut, Masinton menyerap keluhan nelayan kecil yang selama ini terabaikan oleh pemerintah.
Nelayan menyampaikan keluhan terkait kelangkaan hasil tangakapan disebabkan maraknya pukat trawl yang bebas beroperasi di zona tangkap nelayan tradisional.
“Kami sangat menderita karena pukat trawl, bahkan tak sedikit jaring kami hilang terseret pukat trawl. Harapan kami, bila bapak sudah menjadi pemimpin, pukat trawl ini diterbitkan pak,” kata Amsar, ketua kelompok nelayan Mela II.
Pian Simatupang, ketua kelompok nelayan lainya menambahkan, keberadaan pukat trawl tidak pernah ditanggapi oleh pemerintah maupun aparat hukum setempat.
“Pukat trawl beroperasi di zona tangkap kami, dan selama ini kami tak dapat berbuat apa-apa karena pemilik pukat trawl itu para penguasa juga. Makanya, kami terpaksa mencari ikan sampai ke Aceh Singkil sana,” kata Pian Simatupang.
Masinton mengatakan, hanya ada satu cara untuk menjawab keluhan nelayan, yaitu dengan memenangkan Masinton-Mahmud pada 27 November 2024 mendatang. (msp)







