PANCUR BATU, Sumutpost.id – Aktivis Lingkungan Hidup dari Yayasan Cakrawala Lestari Sumatera (CLS), Dr. Jamiluddin Marpaung, MA, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi lingkungan di sejumlah kawasan permukiman di Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang.
Perilaku masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan di pinggir jalan telah menciptakan lingkungan yang kotor, tidak sehat, dan berpotensi menimbulkan krisis lingkungan di masa depan.
Saat meninjau langsung lokasi penumpukan sampah di jalur lintas desa, Sabtu (2/5/2026), Ketua Yayasan CLS Jamiluddin Marpaung mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Sampah terlihat menumpuk di tepi jalan, menimbulkan bau tidak sedap serta merusak estetika lingkungan.
“Warga dengan sengaja membuang sampah tanpa rasa bersalah dan tanggung jawab. Ini menyebabkan penumpukan yang tidak hanya merusak pemandangan, tetapi juga berpotensi menimbulkan berbagai penyakit dan dampak buruk lainnya,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan ini tidak hanya disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat, tetapi juga dipengaruhi oleh minimnya pelayanan dari Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dalam pengelolaan sampah.Seluruh elemen pemerintah daerah, mulai dari tingkat desa, kecamatan, hingga Dinas Lingkungan Hidup, agar lebih serius menangani persoalan ini secara sistematis dan berkelanjutan.
“Masalah sampah ini tidak bisa dianggap sepele. Jika dibiarkan, ini akan menjadi bom waktu bagi kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Ia menambahkan, sebagai lembaga
yang bergerak di bidang lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat, CLS menyatakan siap mendukung langkah-langkah strategis pemerintah daerah dalam pembenahan sistem pengelolaan sampah.
Katanya, CLS telah memiliki pengalaman dalam mengelola sampah di beberapa titik di Kota Medan, dengan pendekatan inovatif berupa pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi, seperti briket bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku UMKM.
“Pendekatan ini tidak hanya menyelesaikan masalah sampah, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” jelasnya.
Sebagai daerah penyangga Kota Medan, wilayah Deli Serdang, khususnya di kawasan perbatasan, mengalami pertumbuhan permukiman yang cukup pesat. Hal ini berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah yang tidak terkelola dengan baik.Jika tidak ada intervensi serius, dalam 5 hingga 10 tahun ke depan persoalan sampah akan menjadi ancaman besar.
“Pertumbuhan penduduk yang tidak diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang memadai akan menjadikan persoalan ini sebagai momok yang menakutkan,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan ini secara profesional dan berkelanjutan katanya, CLS mendorong penerapan konsep pengelolaan sampah modern berbasis ekonomi sirkular (circular economy). Beberapa langkah strategis yang dinilai relevan seperti Penerapan sistem pemilahan sampah dari sumber (rumah tangga) berbasis edukasi masyarakat.
Pengembangan bank sampah digital, yang terintegrasi dengan insentif ekonomi bagi warga. Pemanfaatan teknologi waste-to-energy, seperti pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif (briket, RDF).
“Kolaborasi multi-pihak, antara pemerintah, swasta, komunitas, dan akademisi. Penguatan regulasi dan sanksi tegas bagi pelaku pembuangan sampah sembarangan. Smart waste management system, berbasis data dan teknologi untuk monitoring distribusi dan volume sampah.” tuturnya
Menurut Jamiluddin, masa depan pengelolaan sampah tidak lagi sekadar “kumpul-angkut-buang”, tetapi harus bertransformasi menjadi sistem yang produktif, berkelanjutan, dan berbasis teknologi.
“Jika dikelola dengan baik, sampah bukan lagi masalah, tetapi sumber daya. Kuncinya ada pada kesadaran, sistem, dan komitmen bersama,” pungkasnya. (msp)








